Chrixery's blog

"...Membaca membuat seorang manusia menjadi berisi, diskusi membuatnya menjadi siap, dan menulis membuatnya menjadi jelas dan pasti." (Francis Bacon)

Minggu, 23 Oktober 2011

Paradigma yang Berubah

RESAH
Lagu dan syair : Doddy Nurfatih
Musik/Aransemen: Christ Helweldery
Studio: Sentul M-Privacy










Tahun 1877, Thomas Edison (1847-1931) menemukan fonograf. Sepuluh tahun kemudian, penemu Amerika Serikat kelahiran Jerman, Emile Berliner (1851-1929) menyempurnakan apa yang ditemukan Edison, dan menghasilkan piringan hitam atau gramofon yang tak lama kemudian bisa dipakai untuk merekam musik. Tahun 1920-an, teknologi mekanis Berliner ini mulai digantikan dengan perekaman dan reproduksi elektronik, dengan getaran jarum fonograf diperkuat menggunakan peralatan elektromagnetik.


Masih sekitar tahun 1920-an, ditemukan alat perekam vinyl yang bisa diproduksi massal. Hal ini menjadikan perekaman menjadi semakin murah dan mudah. Hal ini membawa ke satu perubahan paradigma sejati di dalam seni musik --- pemantapan musik pop sebagai musik main stream.


Gaya dan istilah musik baru seperti jazz, swing, country-and-western, soul, rock merupakan genre paling terkenal pelembagaannya setelah dibantu oleh tekhnologi rekaman. Sejak saat itulah musik sudah bisa dianggap sebagai sumber hiburan dan pengalihan pikiran massal, bukan yang terutama sebagai seni untuk kaum terpelajar atau yang hanya bisa didengar di ruang-ruang istana atau konser semata.


Menciptakan dan mewujudkan sebuah gagasan bukan hal yang sulit saat ini. Untuk melakukannya bisa dimulai dari sebuah kamar yang sempit sekali pun. Yang penting adalah talenta yang dimiliki seseorang, apakah dia memang punya kemampuan mencipta atau tidak. Dan tentu juga dengan adanya kemauan yang keras. Tekhnologi telah membuat banyak hal menjadi mudah untuk diakses oleh siapa pun. 


Lagu Resah di atas ini diciptakan oleh seorang asisten saya, Doddy Nurfatih. Saya merasa bahwa ini adalah komposisi yang bagus dengan susunan melody yang enak didengar. Saya tertarik untuk membuat aransemen musiknya lalu saya kerjakan semuanya sendiri dalam sebuah ruang kerja yang cuma berukuran 3 x 3 meter di rumah saya sendiri tanpa memiliki satu potong pun alat musik walau seutas senar gitar atau seperangkat drum atau piano. Saya hanya dibantu oleh beberapa software sederhana yang saya kuasai sepenuhnya melalui proses belajar (trial and error) dan sedikit pengetahuan mengenai notasi, itu saja.


Pengalaman ini membuktikan bahwa memang dalam era digital ini, manusia sudah hidup seperti di dalam sebuah pabrik besar (oleh mcLuhan, di sebut sebagai; Galaksi Digital) yang bisa mengerjakan apa saja yang dia mau. Komputerisasi menjadi harga mati bagi yang namanya kemajuan. Konvergensi berbagai media ke dalam bentuk digital membuat segala hal menjadi mudah dan murah. Tanpa mengabaikan peran Tuhan sebagai Pencipta yang Agung, tampaknya hasrat manusia untuk menjadi pencipta-pencipta (huruf 'p' kecil) bukan cuma mimpi belaka. Untuk menjadi kreatif orang tidak perlu menunggu terlalu lama...









Tidak ada komentar:

Posting Komentar