Chrixery's blog

"...Membaca membuat seorang manusia menjadi berisi, diskusi membuatnya menjadi siap, dan menulis membuatnya menjadi jelas dan pasti." (Francis Bacon)

Selasa, 18 Oktober 2011

Budak Waktu 3 (selesai)

Manusia tidak akan pernah menjadi budak waktu kalau bukan 
dia sendiri yang menyiapkan diri untuk dimakan oleh waktu....
Shooting sinetron serial












Berpacu dengan waktu
Kita sudah melihat beberapa hambatan yang ada dalam proses produksi. Hal seperti itu bisa terjadi akibat tak adanya suatu perencanaan yang baik dan terarah sehingga segala sesuatu yang dilakukan terkesan serba improvisasi atau mengupayakan akal-akalan operasional, yang penting selesai. Jelas dengan cara kerja seperti itu  kita tak dapat berharap akan memperoleh sebuah produk yang baik apalagi berkualitas.


Kekurangan waktu bisa saja menjadi alasan untuk dijadikan kambing hitam penyebab merosotnya kualitas sinetron kita. Tapi mengapa sampai kekurangan waktu? Itulah yang seharusnya ditelusuri. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, shooting secara intensif biasanya baru dilakukan pada saat produser yakin tentang adanya kepastian waktu penayangan. Wajar-wajar saja bila produser tidak mau ambil resiko dengan membuat banyak episode yang belum jelas waktu tayangnya. Tapi, dengan bersikap begitu, berarti terjadi kehilangan waktu produktif di mana pada waktu tersebut dapat di susun beberapa skenario yang menjadi bahan utnuk merancang jalannya sebuah produksi yang terencana dengan baik dalam sebuah desain produksi. Ketika tiba pada tahap shooting, sudah ada sebuah peta jalannya produksi yang rapih dan semua yang terlibat dalam pekerjaan di tahap produksi sudah memiliki acuan atau pedoman kerja yang memadai. Selama ini proses kerja dalam tahap produksi terkesan ber-improvisasi karena ketiadaan rencana kerja yang memadai, tak ada yang dilakukan untuk mendesain sebuah produksi pada tahap pra-produksi. Dan yang lebih celaka lagi, kesalahan-kesalahan produksi akan selalu cenderung mengarah pada pelaksana produksi karena merekalah yang dianggap paling bertanggung jawab pada tahap shooting. Padahal sumber kerapuhan ada pada saat perencanaan yang tidak mempersiapkan sebuah produksi berjalan dengan semestinya. Inilah gambaran sistem manajemen produksi kita yang terlalu menganggap enteng sebuah proses. Sepanjang kinerja dalam produksi kita mengabaikan hal tersebut, jangan berharap banyak pada sinetron-sinetron kita. Sinetron-sinetron kita akan tetap seperti yang terlihat sekarang ini; serba gampangan, sama dengan masa persiapannya yang menggampangkan segala-galanya.


Saya pikir, apabila ada sedikit saja upaya mendisiplinkan diri dalam melaksanakan manajemen produksi yang benar maka tidak tertutup kemungkinan produk-produk nasional kita akan bisa menyaingi produk-produk luar yang kini hanya menjadi trend untuk di tiru, di sadur atau sekedar di cuplik dari potongan-potongan adegan yang dianggap menarik oleh kebanyakan sinetron lokal tanpa ada rasa malu. 


Kejar tayang adalah sebuah kondisi, sebuah akibat dari ketidak mampuan menjalankan roda produksi. Sebuah kondisi yang benar-benar buruk, tapi aneh, selalu saja terjadi berulang-ulang dan sebagian orang malah akan merasa bangga berada dalam kondisi tersebut. Dugaan (kuat) yang muncul kemudian adalah memang sebuah produk sinetron serial (stripping) direncanakan untuk selalu berada dalam kondisi kejar tayang. Alasannya sederhana saja, para perancang produksi yang ada di belakang produk tersebut butuh waktu untuk memantau hasil rating sehingga mereka bisa mengetahui perkembangan minat pemirsanya melalui pooling rating. Begitu mengenali tingkat perhatian penonton (misalnya, di laporan rating tertera bahwa di jam sekian, menit sekian, detik sekian, pada adegan aksi pesinden cantik menggoyang-goyangkan bokongnya, di situ tercatat ada peningkatan jumlah pemirsa) mereka buru-buru membenahi skenario, menambah adegan pesinden cantik tersebut dengan harapan bisa mendongkrak naik perolehan rating produk mereka yang cenderung merosot. Hal seperti inilah yang juga menjadi penyebab mengapa skenario selalu terlambat sampai ke tangan para pelaksana produksi dilapangan dan juga memungkinkan orang menonton sebuah cerita sinetron yang meloncat kesana-kemari tanpa ada kesinambungannya.


Beberapa kiat 
akal-akalan operasional



Tentu dalam mengupayakan penyelesaian pekerjaannya, orang akan berusaha dengan berbagai cara. Apalagi pekerjaan yang punya tingkat kesulitan yang tinggi seperti membuat sinetron stripping ini, ditambah lagi dengan adanya tekanan-tekanan. 


Pertama yang terpenting yang harus dimiliki oleh para pekerja (crew) inti, adalah penguasaan tekhnis dasar ilmu film yang memadai. Hal itu penting, sebab berdasarkan pengetahuan dasar itulah nantinya intuisi mereka bekerja. Seperti diketahui, pekerjaan yang memiliki tingkat kecepatan yang tinggi, tidak bisa berharap bahwa dia punya waktu banyak untuk berfikir. Yang ada dalam dirinya hanya sekumpulan dorongan-dorongan yang namanya intuisi. Intuisi ini akan bekerja berdasarkan nilai-nilai yang tertanam diotaknya. 


Secara tekhnis ada pakem-pakem tertentu yang berlaku umum yang merupakan akal-akalan operasional untuk mengefisienkan pekerjaan dan bisa memangkas waktu kerja. Hasil kerjanya bisa terlihat dalam sinetron-sinetron stripping kita di layar-layar televisi nasional. Cara-cara seperti itu dianggap oleh sebagian orang sebagai 'anti art'  atau biasa disebut secara sinis sebagai sinetron 'telor ceplok' atau 'pas foto', karena baik tipe shot mau pun pengadeganan yang dilakukan tidak punya pergerakan fisik. Semua pemain berdiri berjajar cenderung menghadap ke kamera lalu berdialog seperti yang tertulis dalam skenario. That's it!. Sebenarnya pakem-pakem itu bukan hal yang baru dan terlalu istimewa,   sebab tekhnik demikian sering digunakan oleh sutradara Arizal  untuk menyelesaikan setiap filmnya. Pada zamannya, di saat orang membuat film berbulan-bulan lamanya, Arizal cuma butuh 18 hari shooting dibantu oleh pakem-pakem seperti itu.

Pakem-pakem itu, diantaranya adalah;
(a) blocking adegan (pergerakan pemain dan pergerakan kamera) yang rumit-rumit sebisa mungkin dihindari. Karena dengan sebuah blocking yang sederhana sekalipun, akan memakan waktu pengerjaan yang cukup lama; misalnya, sebuah blocking yang menggunakan ruang yang luas akan membutuhkan penggunaan lampu yang lebih banyak akan membawa akibat pada waktu penataan lampu-lampu tersebut yang lama pula. Di samping itu, beban pemain akan sedikit lebih berat karena ditambah dengan harus menghafal blocking. Dengan demikian, untuk mempersingkat waktu kerja, biasanya penataan adegan akan selalu disesuaikan dengan penataan lampu dan setting. Semua unsur itu diusahakan berada pada satu titik tertentu sehingga dengan satu kali pemasangan lampu serta pengaturan posisi kamera, sudah bisa terselesaikan satu adegan atau kalau bisa lebih dari satu adegan. Shot-shot biasanya dibuat cuma dalam format; master shot dengan seluruh pemain ada dalam adegan tertentu, kemudian sesudah itu dibuat lagi CU dari masing-masing pemain yang terlibat dalam adegan.

(b) detail shot wajib dibuat untuk adegan-adegan spesifik, misalnya orang mengeluarkan dokumen dari dalam map, maka jangan pernah dilupakan detail shot tangan orang mengeluarkan dokumen dari dalam map, atau polisi yang memborgol seorang pencuri, CU tangan polisi yang mengalungkan borgol dipergelangan tangan si pencuri harus dibuat. Sebab apabila terlupa shot-shot detail tersebut, dikhawatirkan penonton akan kehilangan informasi mengenai kejadian-kejadian spesifik tersebut karena biasanya shot-shot yang digunakan cenderung dalam format CU. Jadi kalau ada CU wajah si polisi yang memborgol dan wajah si pencuri yang diborgol tanpa ada CU tangan pencuri diborgol, maka penonton tidak akan tahu kejadian yang sebenarnya sedang terjadi. Masih ada pakem-pakem lain yang sangat lazim digunakan dalam pengerjaan sebuah serial stripping. Semuanya dengan tujuan efisiensi kerja dan terutama mempersingkat waktu kerja. Misalnya penggunaan dinding-dinding palsu yang bisa diletakkan di mana saja dan untuk set apa saja. Tinggal letakkan seorang pemain di latar depan, kemudian diatur arah pandang si pemain, dan "Action!" Itulah sedikit akal-akalan operasional yang sering dilakukan dalam kondisi kejar tayang; 
(c) mempersiapkan dinding-dinding 'ajaib' yang netral dan fleksible. Maksudnya, dinding-dinding tersebut harus bisa  disusun dalam berbagai bentuk (menjadi dinding kamar, dinding kantor, dinding dengan jendela atau dinding dengan lukisan atau apa pun itu) dan bisa  ditempatkan dimana saja untuk keperluan 'jumping shot'. Jumping shot adalah membuat shot-an shot yang oleh karena hal-hal tertentu, misalnya para pemain tak dapat dikumpulkan dalam satu frame shot yang sama ketika pekerjaan dimulai, sementara shot itu sudah harus dibuat. Secara teknis, pemain yang tidak hadir itu diabaikan dulu, adegan di shoot tanpa pemain tersebut (dihutangkan dulu) dan nanti akan dishoot tersendiri. Dengan tehnik begini, masalah waktu dapat teratasi, di samping itu, waktu para lawan main tidak tergantung sepenuhnya pada seorang pemain yang belum hadir itu.

Tidak ada salahnya pakem-pakem diatas digunakan. Karena memang tidak ada pilihan lain untuk mempersingkat waktu kerja. Pertanyaannya, adalah kenapa harus mempersingkat waktu kerja? Dan jawabannya adalah; memang waktunya tidak cukup.



Nuansa ketidak-adilan
Hal negatif dari kondisi kejar tayang yang lain adalah menyangkut dengan rasa keadilan. Kita bisa melihat dan merasakannya dengan sangat jelas dalam bentuk-bentuk perilaku tertentu. Misalnya, tidak jarang terjadi seorang asisten sutradara sibuk mencari-cari seorang pemain pengganti (stand-in) yang tiba-tiba menghilang dari lokasi shooting. Ternyata si stand-in sudah pulang karena merasa bahwa dia bekerja lebih keras dari pada pemain yang digantikannya, dia harus berguling-guling dalam lumpur, dia harus jatuh-bangun karena disiksa atau (maaf) dia yang harus bertelanjang dada, dia harus rela menunggu dengan waktu yang tak terhingga, sampai pekerjaannya selesai. Sementara pemain yang digantikannya hanya datang beberapa jam, selesai lalu pulang. Di samping itu kalau mau dihitung penghasilan, honor yang didapatnya sangat-sangat-sangat jauh dibanding pemain utama yang digantikannya. Di samping itu, perlakuan yang diterimanya tentu akan berbeda pula dibandingkan perlakuan terhadap pemain utama, dalam ungkapan sinis bisa disebut sebagai; 'beda kasta'. Misalnya kemarahan yang didapatnya akibat keterlambatan tiba di lokasi akan berbeda dengan 'kemarahan bijak' yang diperolah pemain utama, misalnya; "... oh, nggak apa-apa, belum terlambat... kita masih ngerjakan yang lain, kok... istirahat aja dulu...: kalimat ini disuguhkan dengan kelembutan walau pun suasana hati seperti lagi dilindas truk tronton. Salah seorang teman saya yang termasuk golongan sutradara senior cuma bisa bilang, "...that's life..." dalam hidup selalu saja mesti ada korban atau yang dikorbankan. Mungkin karena sudah pasrah pada keadaan yang seakan tak bisa diluruskan lagi sehingga jawaban yang muncul pun bernada pasrah.


Bagaimana kalau yang terjadi adalah sebaliknya? Misalnya karena tegas, seorang asisten sutradara menegur pemain (yang punya hak-hak istimewa tentunya) atas keterlambatan si pemain tiba di lokasi atau mungkin kesalahan lainnya. Bisa dipastikan bahwa dalam hitungan menit, si asisten sutradara akan memakan buah dari sikap tegasnya itu, dia akan kena teguran keras dari 'boss', bahkan mungkin saja hal terburuk bisa terjadi atas dirinya apabila ternyata dia sering bersikap 'tegas' seperti itu ; bisa-bisa dia dikeluarkan dari daftar crew tanpa ada yang bisa membelanya. Prinsip "you strong you go on... you weak you leave it..."  adalah hukum standard yang mirip sekali dengan hukum rimba yang umumnya berlaku dalam dunia kerja ini. Begitu umumnya sampai-sampai orang tak bisa membedakan benarkah atau salahkah?


Seperti biasanya bahwa posisi para pekerja (crew) dalam sebuah produksi tidak sekuat para pemain. Dalam pandangan produser, crew tidak punya nilai jual dan stasiun televisi tidak pernah mempersyaratkan crew yang harus mengerjakan sebuah pekerjaan. Seorang pemain, apalagi mereka yang merupakan 'pesanan' sebuah stasiun televisi, menjadi penting artinya bagi produser yang berorientasi ekonomi. Tidak pernah ada pihak yang memperhitungkan aset para pekerja, skill atau kemampuan. Kalau memperhitungkan saja sudah tidak sanggup, lalu kenapa harus capek-capek menghargai seseorang?


Hal menyedihkan di atas tadi sangat mungkin terjadi bila dikaitkan juga dengan adanya persaingan memperoleh kesempatan kerja. Ada begitu banyak tenaga kerja sementara lahan pekerjaan begitu terbatas. Para penentu (produser) akan dengan mudah menyingkirkan dan dengan mudah pula mendapatkan gantinya. Bagaimana legalitas 'pemecatan' dengan modus seperti itu? Secara formal tentu bisa doperkarakan. Karena seorang produser tidak berhak secara langsung mengeluarkan crew yang tidak disenanginya. Seorang crew tidak dikontrak oleh si produser, tapi oleh seorang pemborong. Jadi, kalau mau mempersoalkan hal-hal yang tidak ber-keadil-an seperti ini seharusnya bisa saja, tapi karena biasanya para pekerja tidak punya pemahaman yang memadai soal hukum, maka tak pernah ada kasus-kasus pelanggaran tersebut mencuat kepermukaan. Lagi pula para pekerja kecil dan lemah itu lebih memusatkan perhatian mereka untuk bisa mendapatkan pekerjaan di tempat lain ketimbang harus memikirkan masalah-masalah hukum yang tidak ada hubungannya secara langsung dengan masalah perut mereka dan keluarga mereka di rumah. Cuma buang-buang waktu dan tenaga yang malah akan menelantarkan kehidupan mereka yang memang sudah sulit itu.


Kesimpulan
Dalam paparan di atas sudah saya gambarkan beberapa faktor penghambat kelancaran shooting, yaitu; keterlambatan menerima skenario, hambatan akibat intervensi berlebihan dari produser, pemain dengan hak istimewa yang ditolerir oleh produser, pengaruh ketrampilan para pekerja (crew) dalam sebuah produksi. Yang jelas, bahwa setiap hambatan akan berakibat langsung pada masalah penggunaan waktu. Kehilangan waktu yang percuma adalah tidak produktif dan sangat merugikan dalam segala hal (tenaga, pikiran dan uang).


Seorang sutradara yang biasa menangani pekerjaan serial stripping akan terbiasa berpikir cepat dan mengambil keputusan yang cepat pula. Di dalam kepalanya harus punya simpanan kiat-kiat atau alternatif-alternatif lain dalam upaya menyelesaikan sebuah shot atau scene secarara terukur; kalau tidak bisa menggunakan set garasi, karena saat itu memang tidak tersedia garasi, demi waktu, maka sutradara harus memindahkannya ke set yang lain yang kira-kira pantas dan sesuai dengan kebutuhan pengadeganan (mise-en-scene). Bagi seorang sutradara yang berpengalaman tentu itu bukanlah sesuatu yang sulit. Tapi hal seperti ini malah bisa menjadi rawan konflik karena sebuah art atau berkesenian itu bukanlah ilmu pasti melainkan cita-rasa, taste. Setiap kepala punya cita rasa yang berbeda-beda karena dalam setiap kepala sudah tertanam nilai-nilai tertentu terhadap segala sesuatu yang diamati atau dialami oleh masing-masing kepala itu. Seorang produser yang tidak mau berkompromi bisa saja mengatas-namakan art atau bahkan logika (dengan latar belakang nilai-nilai yang dia yakini benar) bahwa pemindahan set itu tidak pantas. Si produser itu juga sanggup berargumentasi dengan keras bahwa tidak logis adegan itu dipindahkan dari garasi ke sebuah teras misalnya. Padahal, kalau si produser mau berkepala dingin dan punya kemampuan mendengarkan orang lain sebaik keahlian-nya melontarkan omelan, tentu ada argumen sutradara yang bisa menjelaskan kenapa keputusan itu diambil dan bagaimana adegan tersebut ditata agar pesan yang mau disampaikan seperti yang ada dalam skenario sanggup ditangkap dengan lengkap oleh penonton tanpa kehilangan detail sekecil apa pun.


"There is no good or bad movie, ..." kata Truffaut, Yang jelek itu orang-orang yang mengerjakannya. Film cuma sepotong kata benda, dia tidak pernah menentukan waktu shooting, manusia yang menentukan kapan pekerjaan harus dimulai dan kapan harus diselesaikan karena harus sudah ditonton orang tanggal sekian jam sekian. Seharusnya tahap pra produksi menjadi satu tahapan perkerjaan yang mendapat perhatian lebih serius dari para production designer (sekelompok orang yang terdiri dari produser, sutradara, penulis, DOP/cameraman, Art Diretor, produser eksekutif atau yang lainnya lagi) dalam merancang detail  sebuah produksi.Bukan hanya produser sendiri, karena pekerjaan itu melibatkan banyak bidang kerja yang tentu seorang produser tidak mungkin menguasai semuanya. Superman saja punya kelemahan.


Berikan sedikit waktu untuk .merencanakan dan merancang sebuah produksi dengan tenang. Libatkan semua mereka yang ahli dalam bidangnya masing-masing untuk memberikan andil dalam perencanaan tersebut. Dan yang terpenting berikan kepercayaan penuh kepada mereka yang terlibat dalam proses perencanaan tersebut sesuai dengan kapasitasnya sebagai orang yang menguasai bidangnya, sehingga kreatifitas mereka akan berkembang secara sehat dan bernilai positif.


Akhirnya, untuk direnungkan; aturlah perjalanan sebuah produksi dengan sebaik-baiknya, maka hasil produksi itu akan memberikan yang terbaik juga untukmu. ...






Selesai,-





Tidak ada komentar:

Posting Komentar