Chrixery's blog

"...Membaca membuat seorang manusia menjadi berisi, diskusi membuatnya menjadi siap, dan menulis membuatnya menjadi jelas dan pasti." (Francis Bacon)

Kamis, 13 Oktober 2011

N-I-A-T





Keinginan tanpa tindakan
Niat itu abstrak sifatnya karena dia belum berwujud dalam tindakan. Niat baru merupakan keinginan. Secara hakiki ada perbedaan antara keinginan dan kehendak; yaitu bahwa keinginan baru ada dalam pikiran yang tidak diteruskan oleh suatu tindakan tertentu, sementara kehendak merupakan dorongan dalam diri untuk bertindak menyatakan apa pun yang menjadi keinginannya. Niat berada di wadah yang sama dengan keinginan, yaitu sesuatu yang ada dalam pikiran (mind). 



Sesuatu yang tidak diwujudkan dalam tindakan adalah mimpi kosong. Saya tahu bahwa saya bukan burung, maka saya harus menghentikan keinginan saya untuk terbang seperti burung. Niat saya untuk jadi burung harus dihentikan karena itu hal yang tak mungkin dan jelas melawan kodrat. Tapi niat saya itu tak bisa dihentikan karena ada dorongan kuat dalam diri saya untuk bertindak mewujudkan harapan saya itu.  Bisa dibedakan antara keinginan dan kehendak; keinginan tidak akan sampai pada suatu tindakan tertentu, artinya, kalau saya ingin bukan berarti saya mau dan saya tidak perlu melanjutkan untuk mewujudkannya dalam tindakan. 


Kehendak adalah suatu hasrat yang dengan keras mendorong saya (secara sadar atau tidak sadar) untuk bertindak mewujudkan. Kembali ke niat terbang di atas, apabila ada dorongan kuat dalam diri saya yang memaksa untuk terbang seperti burung, maka hal itu bisa memotivasi saya untuk bertindak mewujudkannya. Hasrat yang kuat itu bisa saja memaksa saya untuk terus meng-eksplorasi segala hal tentang cara bagaimana seekor burung bisa terbang, atau meng-inspirasi saya untuk suatu hal yang lebih kreatif, misalnya membuat pesawat terbang, dan bisa juga memicu saya untuk belajar lebih banyak tentang tekhnologi pesawat terbang. Maka dalam hal ini, dorongan kuat dalam diri saya itu telah membantu saya untuk bertindak secara kreatif. 


Alasan keinginan
Apa pun yang jadi alasan kita untuk melakukan sesuatu, tentu akan menuju ke suatu arah tertentu yang menjadi harapan, keinginan atau cita-cita  kita. Tindakan tidak beralasan adalah tindakan yang tidak ada tujuannya atau tindakan yang dilakukan tanpa sebab yang jelas, tanpa motif yang kuat. Saya ingin lulus SMU tahun ini, itulah alasan saya untuk belajar lebih giat lagi supaya  tahun depan saya tidak kembali ke kursi yang sekarang saya duduki.


Semua orang, hidup dengan harapan dan cita-cita, ingin jadi apa dia, ingin memiliki apa, dan ingin-ingin lainnya (yang kecil mau pun besar, yang baik mau pun buruk). Harapan dan cita-cita yang tidak diikuti dengan tindakan mewujudkannya akan menjadi harapan yang kosong dan hanya ada dalam dunia mimpi. Memang tidak semua impian kita yang layak untuk diwujudkan. Ada banyak pertimbangan rasional yang harus mengikutinya, misalnya; apakah tindakan itu tepat atau tidak, apakah mampu melaksanannya atau tidak, apakah tindakan itu ada gunanya atau tidak? Apabila saya ingin menambah dua kamar lagi dalam rumah baru saya, tapi rumah itu sendiri sudah terlalu kecil untuk memuat satu kamar saja, maka saya harus memilih untuk melanjutkan atau menghentikan mimpi saya itu. Atau, kalau memang harus diwujudkan, mau tak mau saya harus memperluas lahan, saya harus memiliki tanah yang ada di sisi rumah utama; untuk itu, maka saya harus punya uang untuk membeli tanah seluas yang saya kehendaki agar impian itu bisa terlaksana. Apabila prasyarat untuk itu tak mungkin saya penuhi karena masih banyak hal penting lain yang juga butuh pendanaan misalnya, sebaiknya impian itu dilupakan saja, atau ditunda dulu. Karena sesuatu yang dipaksakan tak pernah akan berhasil dengan baik kecuali akan menambah masalah baru dan kelihatan konyol. Maka dalam melayani dorongan hasrat itu, kita memerlukan pertimbangan-pertimbangan rasional untuk memilah-milah kepantasannya.


Menjadi pintar
Tidak ada salahnya punya mimpi besar, karena kehendak yang besar akan menjadi motif, atau dasar dan alasan yang kuat pula bagi kita untuk bertindak mewujudkannya. Ungkapan lama yang pernah dipopulerkan Bung Karno dulu, 'capailah cita-citamu setinggi bintang di langit', adalah ungkapan optimistik yang meng-inspirasi, agar semangat hidup tetap terjaga, dan yang selalu akan mengingatkan bahwa masih ada sesuatu hal yang belum terselesaikan.


Setiap orang tua akan mengantar anaknya ke sekolah dengan pesan; "belajar yang rajin, supaya pintar".  Orang tua berharap agar kelak dengan kepintarannya, sang anak sanggup menentukan dirinya sendiri dan akan menjadi anak yang kuat dan berhasil. Sekolah-sekolah menjadi penuh dengan anak-anak yang disuruh orang-tua mereka untuk memburu ilmu demi masa depan yang lebih baik. Dunia semakin lama dipenuhi dengan orang-orang berotak cemerlang. Sekolah menjadi sebuah institusi formal yang penting dalam kehidupan sosial karena sekolah telah mengisi otak manusia dengan pengetahuan-pengetahuan yang dibutuhkan untuk menunjang kehidupan itu sendiri.


Menjadi kaya
Dalam esainya, Protestant ethic and the spirit of capitalism (1904), Max Webber (1864-1920) menjelaskan penelitiannya, bahwa keberhasilan orang-orang yang beragama Protestan di Eropa melebihi orang-orang Katolik dan agama lainnya. Hal itu sangat erat hubungannya dengan konsep yang berkembang dikalangan Protestan, yaitu konsep 'beruf' (bah. Jerman), yang artinya calling atau panggilan. Dengan konsep itu, Martin Luther (tokoh reformasi) berhasil memberikan nilai positif terhadap dunia materi yang bersifat kodrati. Jadi, walau pun agama mempunyai tujuan tertinggi di dunia yang lain, suatu dunia di masa yang akan datang, namun mereka tidak boleh mengabaikan dunia nyata sekarang ini termasuk aspek-aspek yang bersifat material. Semuanya harus dinilai secara positif, dan semua dilakukan demi kemuliaan Tuhan semata; majorem gloriam Dei. Weber melihat sikap terhadap dunia material itu begitu kuat terciri dalam kehidupan orang-orang Protestan di Eropa, mereka menunjukkan etos kerja keras karena pekerjaan adalah sebuah 'beruf', panggilan, yang dengan bekerja sungguh-sungguh berarti mereka memuliakan Tuhan. Dan dengan kerja keras itu pula mereka bisa mencapai posisi-posisi terbaik dalam perusahaan-perusahaan sebagai profesional.


Weber membayangkan bahwa spirit kapitalisme dengan nilai-nilai luhur sebagai sifat bawaannya akan membawa dunia ke arah yang lebih baik dan menyenangkan karena ketika semua orang sudah berdaya, maka dunia akan aman dan sejahtera karena semua orang sudah sanggup memenuhi kebutuhannya masing-masing, semua orang diberdayakan oleh sistem kapitalis. "Menjadi kaya dengan kerja keras? Setuju, tapi jangan cuma sekedar kaya, dong... harus lebih kaya dan lebih kaya lagi," demikianlah kata-kata para pemburu kekayaan. Memang sebagian dari mereka memperlihatkan etos kerja yang baik dengan disiplin tinggi yang pada akhirnya membawa mereka terbang melambung sambil meninggalkan rakyat jelata sangat jauh di gorong-gorong di bawah mereka. Mereka kemudian mengelompokkan diri dalam kelompok-kelompok eksklusif yang menguasai beberapa atau banyak bidang usaha yang kemudian kemudian berkembang dengan sangat cepat karena kepandaian dan kekayaan mereka. Tidak jarang pula sebagian dari mereka 'menyusup' atau menjadi bagian dari birokrat resmi atau paling tidak menempel dengan kawan-kawan birokrat mereka sehingga cengkeraman kekuasaan mereka semakin dahsyat. 


Sama halnya dengan menjadi pintar, maka menjadi kaya juga wajar dan tidak ada undang-undang yang melarang. Tetapi menjadi kaya dengan cara-cara curang, mencuri, manipulasi, merampas hak orang lain adalah serakah. Keserakahan yang tidak terkendali mematikan cita-cita luhur kapitalisme. Di Amerika, rakyat mulai mempertanyakan kapitalisme setelah ekonomi mereka macet karena ulah orang-orang super kaya dengan perusahaan-perusahaan multi nasional, pemerintah dianggap bermain mata dengan pengusaha-pengusaha raksasa yang akibatnya menyusahkan rakyat. Begitu pula di belahan dunia yang lain, Eropa di landa krisis ekonomi berkepanjangan dan kerusuhan muncul dimana-mana. Di Indonesia, sidang-sidang pengadilan negeri silih-berganti di isi oleh perkara-perkara korupsi, manipulasi pajak, perbankan dlsb.


Robinhood modern
Robinhood, adalah sebuah cerita rakyat Inggris yang sudah melegenda, seorang jago panah dari hutan sherwood yang selalu merampas harta orang-orang kaya untuk dibagi-bagi pada rakyat yang hidup miskin dan sengsara, "robbing from the rich and giving to the poor". Hampir sama dengan Robinhood, di Indonesia kita kenal si Jampang jago Betawi, seorang centeng Belanda yang menunjukkan empatinya pada penderitaan rakyat. Kalau mereka berdua masih hidup di zaman sekarang, mungkin mereka akan mendapat kesulitan besar untuk menentukan orang kaya mana yang harus dirampok. Bisa-bisa mereka salah alamat karena semua penjahat kerah putih adalah orang-orang yang terkenal baik, tokoh panutan dan selalu ada dalam setiap bencana alam, dalam setiap kesulitan, punya panti asuhan yang memelihara anak yatim dan anak terlantar, punya yayasan pendidikan yang turut mencerahkan bangsa dlsb. Mereka bisa tampil kapan saja mereka mau melalui media-media informasi yang ada untuk mencitrakan diri mereka sebagai orang yang patut dihormati. Mereka adalah orang-orang yang pandai berganti-ganti topeng. 


Kalau toh akhirnya topeng mereka terbuka, mereka tidak perlu takut atau malu. Penjara bukanlah sebuah tempat yang menyeramkan bagi mereka. Penjara cuma merupakan tempat istirahat sejenak dari rutinitas. Hitung-hitung itulah saat-saat yang tepat untuk lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta.  Rakyat kita juga sudah terkenal sebagai rakyat yang pemaaf dan cepat melupakan kejahatan-kejahatan orang. Apalagi dengan adanya upaya-upaya pencitraan yang sempurna, rakyat akan mengulang-ulang kalimat; "yaah, asal niatnya baik, siih... "





































Tidak ada komentar:

Posting Komentar