Marah itu biasa. Orang tua marah pada anak, wajar, karena dengan memarahi, si anak mendapat pembelajaran tentang yang mana yang baik dan yang mana tidak pantas. Tapi kalau marah yang tidak terkendali, bisa-bisa membawa akibat buruk bagi siapa pun mereka yang terlibat dalam lingkaran kemarahan itu, baik yang memarahi mau pun yang dimarahi bahkan mungkin juga orang lainnya yang tidak tahu masalah yang sebenarnya sedang terjadi.
Sekarang dengan mudah kita bisa melihat orang marah; mulai dari yang dipicu oleh hal-hal sepele sampai dengan hal-hal yang menyangkut harga diri, prinsip, bahkan ideologi. Tayangan berita di televisi rata-rata menampilkan adegan-adegan 'seru' itu; bagaimana ricuhnya suasana pengadilan ketika seorang terhukum diburu-buru oleh keluarga korban yang dirasuk amarah dan dendam, bagaimana demo yang berakhir dengan situasi penuh dengan kemarahan dan buntut-buntutnya anarkis, bagaimana dalam beberapa talk-show memperlihatkan para elit politik yang menunjukkan betapa tersinggungnya mereka sehingga membuat mereka protes keras secara terang-terangan dan kemarahan seakan tidak bisa dikendalikan. Belum lagi kita menonton sinetron-sinetron yang harus punya bumbu dramatik berupa pertengkaran, marah-marah dengan nada suara yang tinggi dibarengi dengan suara musik yang berdentam mengguncang jantung pemirsanya. Bom gereja Bethel di Kepunton, Solo, adalah ekspresi kemarahan yang fatal. Anggota Banggar DPR walau mengaku tidak marah karena 'sakit hati' dengan pertanyaan-pertanyaan tim penyidik KPK, tapi apa yang tampak pada ketegangan (yang disebabkan oleh tarikan-tarikan otot wajah) mereka sudah dengan jujur mengatakan bahwa mereka sedang diliputi rasa amarah yang kemudian terbukti dengan tindakan mengembalikan wewenang kepada pimpinan mereka. Lagi-lagi, sengaja atau tidak, media ramai menyajikan 'tontonan emosional' tersebut. Akibatnya, pertunjukan kemarahan muncul dimana-mana; dalam aksi unjuk rasa, dalam perdebatan-perdebatan formal, dll. Sudah terlalu banyak pertunjukan kemarahan di luar kewajaran yang terjadi dalam kehidupan di negeri ini.
Kita semua pernah mengalami bagaimana rasanya memarahi atau dimarahi. Seseorang yang sering marah akan disebut sebagai pemarah. Itulah watak orang tersebut. Kalau sedemikian banyak pemimpin dan rakyat bangsa ini terkesan menjadi pemarah, apakah itu mewakili watak bangsa? Lalu dimana orang-orang Indonesia yag dulu terkenal ramah, sopan dan murah senyum itu? Apakah itu cuma ada dalam buku promosi industri pariwisata? Tidak perlu sesinis itu kita menghakimi karena marah atau kemarahan itu manusiawi, karena dia merupakan salah satu perilaku manusia dan sebagai salah satu cara manusia mengekspresikan emosinya. Seseorang yang takut marah dan memendamnya dalam hati bahkan mungkin akan berakibat buruk juga karena kemarahan yang dipendam akan menjadi benih-benih dendam di kemudian hari. Charles Spielberger, seorang pakar psikologi yang menghususkan diri dalam penelitian tentang kemarahan menyatakan bahwa marah adalah perilaku yang normal dan sehat. Sebagai satu bentuk ekspresi emosi, maka sama halnya dengan emosi yang lain, perilaku marah juga akan diikuti oleh perubahan psikologis dan biologis. Marah akan memicu peningkatan aliran darah dan denyut nadi, mempengaruhi tingkat hormon dan adrenalin. Makanya seorang pemarah biasa disebut 'darah tinggi' atau 'naik darah'. Jadi marah juga sangat punya potensi sebagai sumber pembawa penyakit, terutama darah tinggi dan jantung disamping beberapa penyakit psikologis, seperti stress. Belum lagi, secara sosial, biasanya seorang yang dikenal sebagai pemarah tidak disukai oleh lingkungannya.
Karena marah tak bisa kita hindari dalam kehidupan kita, karena marah adalah hal yang pasti akan kita alami di satu saat tertentu dalam hidup kita, maka ekspresikan kemarahan itu dengan sebaik-baiknya, misalnya; tidak menimbulkan kerugian bagi orang lain dan diri sendiri. Mungkin untuk itu diperlukan persyaratan yang cukup membebani kita, yaitu kesediaan kita untuk berusaha mengerti permasalahan yang menjadi sumber kemarahan atau introspeksi diri, mau mengerti tentang pribadi lawan kita secara obyektif, dan yang penting adalah kebesaran hati untuk memaafkan atau sebaliknya, meminta maaf (mungkin ini adalah bagian yang tersulit). Marah yang tidak baik adalah marah yang tidak dikelola. Jadi, kelolalah amarah anda, 'manage your anger', supaya hidup ini menjadi sehat dan bahagia...
.
Kita semua pernah mengalami bagaimana rasanya memarahi atau dimarahi. Seseorang yang sering marah akan disebut sebagai pemarah. Itulah watak orang tersebut. Kalau sedemikian banyak pemimpin dan rakyat bangsa ini terkesan menjadi pemarah, apakah itu mewakili watak bangsa? Lalu dimana orang-orang Indonesia yag dulu terkenal ramah, sopan dan murah senyum itu? Apakah itu cuma ada dalam buku promosi industri pariwisata? Tidak perlu sesinis itu kita menghakimi karena marah atau kemarahan itu manusiawi, karena dia merupakan salah satu perilaku manusia dan sebagai salah satu cara manusia mengekspresikan emosinya. Seseorang yang takut marah dan memendamnya dalam hati bahkan mungkin akan berakibat buruk juga karena kemarahan yang dipendam akan menjadi benih-benih dendam di kemudian hari. Charles Spielberger, seorang pakar psikologi yang menghususkan diri dalam penelitian tentang kemarahan menyatakan bahwa marah adalah perilaku yang normal dan sehat. Sebagai satu bentuk ekspresi emosi, maka sama halnya dengan emosi yang lain, perilaku marah juga akan diikuti oleh perubahan psikologis dan biologis. Marah akan memicu peningkatan aliran darah dan denyut nadi, mempengaruhi tingkat hormon dan adrenalin. Makanya seorang pemarah biasa disebut 'darah tinggi' atau 'naik darah'. Jadi marah juga sangat punya potensi sebagai sumber pembawa penyakit, terutama darah tinggi dan jantung disamping beberapa penyakit psikologis, seperti stress. Belum lagi, secara sosial, biasanya seorang yang dikenal sebagai pemarah tidak disukai oleh lingkungannya.
Karena marah tak bisa kita hindari dalam kehidupan kita, karena marah adalah hal yang pasti akan kita alami di satu saat tertentu dalam hidup kita, maka ekspresikan kemarahan itu dengan sebaik-baiknya, misalnya; tidak menimbulkan kerugian bagi orang lain dan diri sendiri. Mungkin untuk itu diperlukan persyaratan yang cukup membebani kita, yaitu kesediaan kita untuk berusaha mengerti permasalahan yang menjadi sumber kemarahan atau introspeksi diri, mau mengerti tentang pribadi lawan kita secara obyektif, dan yang penting adalah kebesaran hati untuk memaafkan atau sebaliknya, meminta maaf (mungkin ini adalah bagian yang tersulit). Marah yang tidak baik adalah marah yang tidak dikelola. Jadi, kelolalah amarah anda, 'manage your anger', supaya hidup ini menjadi sehat dan bahagia...
.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar