Manusia tidak akan pernah menjadi budak
waktu kalau bukan dia
sendiri yang menyiapkan dirinya untuk dimakan oleh
waktu....
Perempuan Pembawa Berkah (SCTV 2011)
|
Para pekerja profesional adalah mereka yang mampu mempertanggung-jawabkan
apa yang telah dilakukannya. Bekerja adalah rahmat yang harus disyukuri atas
dasar keyakinan bahwa itu semua dilakukan demi kebaikan diri sendiri, keluarga
mau pun orang lain yang menikmati hasil jerih payahnya. Tulisan di bawah ini
mau mencoba memaparkan secara selintas tentang apa saja yang sebenarnya dilakukan oleh mereka yang membuat sinetron, khususnya
sinetron stripping. Apakah mereka dengan sengaja membodoh-bodohi penontonnya dengan menghasilkan sinetron-sinetron kacangan seperti tudingan-tudingan yang selama ini mengarah ke mereka? Dunia kerja, bidang apa pun itu, punya permasalahan
masing-masing yang disadari atau tidak, bisa saja berdampak pada hasil
produknya.
Tulisan ini juga ditujukan untuk mereka yang selama ini berkecimpung dalam ruang lingkup kerja sinetron serial. Bagi mereka, tulisan ini merupakan upaya introspektif agar bisa mewaspadai setiap tindakan dan peri-laku dalam melaksanakan pekerjaan secara profesional.
Pendahuluan
Banyak orang yang sudah pernah menikmati salah satu bentuk tayangan televisi yang biasa dikenal dengan nama sinetron atau film televisi. Tayangan sejenis ini di Amerika disebut ‘Soap Opera’. Disebut demikian karena program tersebut biasanya dipenuhi dengan iklan-iklan dari produk-produk pembersih yang berbusa, seperti sabun misalnya. Diminati oleh para pengusaha sabun lebih disebabkan oleh karena penonton tayangan-tayangan tersebut kebanyakan adalah para wanita dan ibu-ibu yang biasa melakukan kegiatan dengan menggunakan sabun. Isi ceritanya adalah drama rumah-tangga yang mengharu-biru, sarat konflik, penuh air mata dan emosional. Dalam hal ini tidak jauh berbeda dengan yang berlaku di negeri kita.
Tulisan ini juga ditujukan untuk mereka yang selama ini berkecimpung dalam ruang lingkup kerja sinetron serial. Bagi mereka, tulisan ini merupakan upaya introspektif agar bisa mewaspadai setiap tindakan dan peri-laku dalam melaksanakan pekerjaan secara profesional.
Pendahuluan
Banyak orang yang sudah pernah menikmati salah satu bentuk tayangan televisi yang biasa dikenal dengan nama sinetron atau film televisi. Tayangan sejenis ini di Amerika disebut ‘Soap Opera’. Disebut demikian karena program tersebut biasanya dipenuhi dengan iklan-iklan dari produk-produk pembersih yang berbusa, seperti sabun misalnya. Diminati oleh para pengusaha sabun lebih disebabkan oleh karena penonton tayangan-tayangan tersebut kebanyakan adalah para wanita dan ibu-ibu yang biasa melakukan kegiatan dengan menggunakan sabun. Isi ceritanya adalah drama rumah-tangga yang mengharu-biru, sarat konflik, penuh air mata dan emosional. Dalam hal ini tidak jauh berbeda dengan yang berlaku di negeri kita.
Bedanya 'soap opera' Amerika punya alur dramatik yang jelas, tertata, dengan kualitas permainan akting yang terjaga sehingga yang menonton juga dipuaskan. Bagaimana dengan sinetron-sinetron di Indonesia? Ada banyak sinetron yang punya kualitas bagus, tapi ada lebih banyak lagi yang sangat mengecewakan. Kalau mau didiskusikan dalam sebuah forum, mungkin sebulan tak akan habis bahan untuk diperdebatkan tentang kekurangannya. Yang mengherankan, rating bagus, artinya yang menonton banyak, makanya para produser bersemangat untuk terus berproduksi dan stasiun-stasiun televisi pun dengan senang hati mau menayangkannya. Tapi, sebenarnya yang terjadi adalah, para penonton yang banyak itu sambil menonton mereka sekaligus mencari celah-celah kelemahan sebuah tayangan. Ada yang sambil menonton sambil mengomel, tentang logika cerita, tentang pemain yang terus berteriak-teriak sepanjang cerita berjalan, tentang tokoh yang tetap cantik dalam setiap adegan, tentang perempuan yang terus-terusan jadi korban, tentang pembodohan terhadap penonton, dan masih banyak lagi contoh-contoh yang dengan mudah bisa kita lihat dalam komentar-komentar terbuka di situs-situs internet yang rata-rata mengungkapkan rasa kesal dan kekecewaan para penonton terhadap sinetron-sinetron nasional.
Kenapa bisa begitu? Biasanya kambing hitam yang disalahkan oleh para pembuat sinetron untuk berusaha membela diri, adalah modal atau uang tidak cukup dan untuk menunggu uang kembali dari pembayaran stasiun televisi terlalu lama, makanya tidak bisa memakai penulis-penulis yang bagus, pemain-pemain yang hebat, sutradara atau kameraman/DOP handal dlsb. Lalu bagaimana dengan Perusahaan-perusahaan yang kaya? Dalam niatan mereka selalu ada keinginan yang kuat untuk membuat sinetron-sinetron yang bagus dan berkualitas tapi mungkin masih keliru dalam beberapa hal atau mungkin langkah-langkah yang ditempuh belum pada format yang benar, sehingga niat luhur mereka belum tercapai. Sebuah sinetron, sama dengan membuat film, membuat sebuah sinetron apa pun itu (serial atau non serial) merupakan hasil dari kerja kreatif yang diusung oleh kemampuan dan ketrampilan banyak pihak, dia merupakan suatu kerja kolektif yang butuh dukungan aktif dari setiap unsur yang terlibat didalamnya.
Lalu bagaimana mempersatukan unsur-unsur yang banyak itu dan menggiring mereka masuk ke dalam satu tatanan kerja yang solid sehingga bisa menghasilkan sebuah karya yang utuh dan baik? Rasanya pertanyaan ini harus dijawab dengan suatu kemampuan manajerial yang kuat. Adakah kemampuan itu dalam diri mereka yang saat ini berdiri di depan, memegang kunci-kunci produksi sinetron nasional? Tentu ada, hanya saja mereka masih terlalu sibuk dengan urusan-urusan yang lain yang menyangkut kepentingan masing-masing pribadi, yaitu keuntungan materi; bagaimana mereka harus mencari jalan agar bisa terus berproduksi, atau bagaimana caranya supaya sinetron mereka bisa bertahan di sebuah stasiun televisi tertentu selama mungkin. Dan soal-soal yang menyangkut masalah kreatifitas hanya dipikirkan sambil lalu sebatas apa yang terlintas dalam kepala mereka pada saat-saat tertentu atau kalau toh dianggap cukup kreatif, itu adalah kreatifitas sebatas bumbu-bumbu pelengkap yang diharapkan bisa menyenangkan penonton yang lebih sering lepas dari konteks. Makanya kalau mau dicermati, setiap sinetron serial akan terlihat bagus dan terjaga kualitasnya hanya di tiga atau sampai enam episode awal. Selebihnya que serra, serra... whatever will be, will be... Hal-hal seperti inilah yang menentukan wajah sinetron kita dewasa ini, sebuah sinetron di rancang atau di desain bukan untuk kebutuhan sebuah sinetron sebagai karya cipta yang penuh dengan 'keriangan kreatif' tetapi dibuat hanya untuk memenuhi hasrat dan keinginan lain.
Stripping
Stripping adalah sebuah istilah yang dikenal dalam dunia
"pertelevisian" menyangkut sebuah cerita bersambung dan
ditayangkan setiap hari (minimal hari Senin sampai Jumat) di stasiun-stasiun TV
tertentu dan pada jam-jam tertentu. Stripping mulai dikenal secara luas di
Indonesia setelah RCTI menayangkan serialnya yang berjudul "Liontin"
(2005).
Kesuksesannya ditandai dengan pencapaian rating yang tinggi. Mengikuti sukses tersebut, stasiun-stasiun televisi lainnya pun melakukan hal yang sama dan mendapat respon yang juga cukup tinggi dari masyarakat. Setelah itu bermunculanlah macam-macam serial stripping yang menyemaraki dunia per-televisi-an nasional.
Kesuksesannya ditandai dengan pencapaian rating yang tinggi. Mengikuti sukses tersebut, stasiun-stasiun televisi lainnya pun melakukan hal yang sama dan mendapat respon yang juga cukup tinggi dari masyarakat. Setelah itu bermunculanlah macam-macam serial stripping yang menyemaraki dunia per-televisi-an nasional.
Kejar Tayang
Satu frasa yang sering menjadi 'turunan' dari kata stripping adalah kejar
tayang. Kejar tayang adalah suatu istilah yang sangat akrab dengan sinetron
stripping. Artinya rentang waktu antara produksi dan penayangan begitu dekatnya
sehingga kecepatan kerja harus dipacu secara maksimal agar produk tersebut
dapat ditayangkan tepat pada waktunya.
Bagi yang mengalaminya, kejar tayang merupakan pekerjaan yang mengandung ‘beban-beban’ fisik dan psikis. Bayangkan bahwa satu episode yang biasa dikerjakan selama 4-6 hari, harus diselesaikan dalam waktu satu hari. Maka tak heran jika bagi sebagian orang, mengalami pekerjaan kejar tayang merupakan kebanggaan juga karena mereka menjadi orang-orang 'istimewa' yang sanggup melakukan hal-hal di 'luar batas kewajaran'. Disebut di luar batas kewajaran terutama jika di lihat dari akumulasi jam kerja yang dibutuhkan selama proses penyelesaiannya; dalam sehari mereka bekerja minimal 13 jam dan kalau perlu, bisa mencapai 24 jam sehari bahkan lebih. Suatu cara kerja yang tak akan pernah ditemukan dalam dunia kerja lainnya.
Bagi yang mengalaminya, kejar tayang merupakan pekerjaan yang mengandung ‘beban-beban’ fisik dan psikis. Bayangkan bahwa satu episode yang biasa dikerjakan selama 4-6 hari, harus diselesaikan dalam waktu satu hari. Maka tak heran jika bagi sebagian orang, mengalami pekerjaan kejar tayang merupakan kebanggaan juga karena mereka menjadi orang-orang 'istimewa' yang sanggup melakukan hal-hal di 'luar batas kewajaran'. Disebut di luar batas kewajaran terutama jika di lihat dari akumulasi jam kerja yang dibutuhkan selama proses penyelesaiannya; dalam sehari mereka bekerja minimal 13 jam dan kalau perlu, bisa mencapai 24 jam sehari bahkan lebih. Suatu cara kerja yang tak akan pernah ditemukan dalam dunia kerja lainnya.
Prosedur Produksi
Prosedur produksi adalah tata laksana atau bagaimana seharusnya sebuah produksi dilaksanakan hingga bisa menghasilkan produk yang sesuai dengan yang diinginkan. Prosedur produksi yang kita kenal terbagi dalam tiga tahapan, yaitu; pra-produksi, produksi dan paska produksi.
Dalam tahap pra-produksi, disiapkanlah segala hal yang nantinya akan dilaksanakan pada tahap berikutnya, yaitu mempersiapkan naskah/skenario lalu menyusun suatu perencanaan yang cukup rinci (sesuai kebutuhan skenario) sehubungan dengan pelaksanaan produksi dengan tujuan agar nantinya produksi tersebut akan berjalan lancar tanpa hambatan berarti. Tahap ini adalah tahap yang paling menentukan karena pada tahap inilah dipikirkan segala hal mengenai produksi; sebuah tahapan yang membentuk semacam 'orientasi' sebagai panduan bagi pelaksana-pelaksana lapangan pada tahap-tahap berikutnya. Tanpa orientasi, maka arah sebuah produksi akan mudah 'tersesat' dan menghasilkan produk yang tidak menentu. Jadi, semua yang ingin diwujudkan, bagaimana cara mewujudkannya, kemungkinan-kemungkinan teknis pelaksanaannya beserta alat-alat yang dibutuhkan sampai pada masalah yang bersifat manajerial, semua dipikirkan secara matang pada tahap ini.
Tahap produksi adalah saat dimana berbagai disiplin yang tergabung dalam unsur produksi (sutradara, DOP/juru kamera. penata artistik dan jajarannya) dipimpin oleh seorang sutradara, meng-eksekusi hasil penafsiran terhadap skenario dan merekamnya dalam bentuk video. Di sini skenario merupakan titik pusat dari semua kegiatan produksi. Skenario bisa dianalogikan dengan sebuah gambar rancang bangun bagi para pekerja yang sedang membangun rumah.
Tahap paska-produksi adalah tahapan di mana materi shooting (bahan video hasil shooting) yang sudah terkumpul kemudian di susun gambar (shot) demi gambar (shot). Susunan gambar yang terdiri dari banyak adegan itu disatukan di meja editing menjadi sebuah cerita utuh dalam bentuk satu episode. Ini adalah tahap terakhir sebelum dibawa ke stasiun televisi untuk ditayangkan.
Dalam tahap pra-produksi, disiapkanlah segala hal yang nantinya akan dilaksanakan pada tahap berikutnya, yaitu mempersiapkan naskah/skenario lalu menyusun suatu perencanaan yang cukup rinci (sesuai kebutuhan skenario) sehubungan dengan pelaksanaan produksi dengan tujuan agar nantinya produksi tersebut akan berjalan lancar tanpa hambatan berarti. Tahap ini adalah tahap yang paling menentukan karena pada tahap inilah dipikirkan segala hal mengenai produksi; sebuah tahapan yang membentuk semacam 'orientasi' sebagai panduan bagi pelaksana-pelaksana lapangan pada tahap-tahap berikutnya. Tanpa orientasi, maka arah sebuah produksi akan mudah 'tersesat' dan menghasilkan produk yang tidak menentu. Jadi, semua yang ingin diwujudkan, bagaimana cara mewujudkannya, kemungkinan-kemungkinan teknis pelaksanaannya beserta alat-alat yang dibutuhkan sampai pada masalah yang bersifat manajerial, semua dipikirkan secara matang pada tahap ini.
Tahap produksi adalah saat dimana berbagai disiplin yang tergabung dalam unsur produksi (sutradara, DOP/juru kamera. penata artistik dan jajarannya) dipimpin oleh seorang sutradara, meng-eksekusi hasil penafsiran terhadap skenario dan merekamnya dalam bentuk video. Di sini skenario merupakan titik pusat dari semua kegiatan produksi. Skenario bisa dianalogikan dengan sebuah gambar rancang bangun bagi para pekerja yang sedang membangun rumah.
Tahap paska-produksi adalah tahapan di mana materi shooting (bahan video hasil shooting) yang sudah terkumpul kemudian di susun gambar (shot) demi gambar (shot). Susunan gambar yang terdiri dari banyak adegan itu disatukan di meja editing menjadi sebuah cerita utuh dalam bentuk satu episode. Ini adalah tahap terakhir sebelum dibawa ke stasiun televisi untuk ditayangkan.
Bersambung...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar