Rabu, 09 November 2011
Prosedur Produksi
Pekerjaan membuat film (sama halnya dengan membuat sinetron) dikenal sebagai pekerjaan yang bersifat kolektif, karena didalamnya melibatkan banyak unsur profesi seperti, sutradara, penulis skenario, juru kamera, penata artistik, pemain, musisi, editor, pimpinan produksi dan manajer, dlsb. Sebuah film yang ditonton di bioskop atau yang ditayangkan di stasiun televisi tertentu adalah hasil akhir dari aktifitas orang-orang yang disebut di atas.
Lalu dengan cara bagaimana sebuah film bisa mencapai keutuhannya dan kolektifitas seperti apa yang berlaku dalam aktifitas produksi yang tampaknya rumit itu? Sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan karena secara teknis semuanya berada dalam satu sistem produksi yang sudah ada aturan mainnya sendiri. Secara sederhana, prosedur produksi sebuah film bisa dibagi dalam tiga tahapan kerja;
Tahap Pra Produksi
1. Di tahap ini sudah harus ada gagasan tentang sesuatu yang akan diceritakan kepada penonton. Biasanya seorang produser yang akan memilih cerita yang menurutnya menarik untuk difilmkan dan bisa saja sangat erat hubungannya dengan pertimbangan-pertimbangan ekonomis. Misalnya gagasan itu berasal dari sebuah novel box office, atau berdasarkan kisah nyata yang sedang ramai diberitakan di media massa, sehingga bisa diharapkan bahwa filmnya pun bisa memperoleh keberhasilan ekonomis yang sama. Kemudian, setelah memperoleh cerita tertentu, produser akan mencari seorang sutradara yang akan menerjemahkan gagasan tersebut menjadi sebuah film dan seorang penulis yang dianggapnya mampu untuk menulis gagasan itu ke dalam bentuk skenario. Gagasan yang tadinya cuma ada dalam benak produser atau sutradara atau penulis (berdasarkan novel atau kisah nyata tertentu) kemudian di tulis secara khusus, dalam bentuk skenario. Di dalam sebuah skenario sudah ada pembagian adegan-adegan dengan plotting yang sudah terstruktur rapih. Pokoknya, dengan membaca sebuah skenario, pembacanya sudah bisa memperoleh bayangan sinematografis dari sebuah pengadeganan; sudah bisa membayangkan shot-shot yang akan dibuat, bahkan seorang sutradara sudah bisa memperoleh bayangan editorial film tersebut (susunan shot-shot dan scene-scene yang membentuk sebuah kisah berkesinambungan dari awal hingga akhir).
2. Langkah selanjutnya, sutradara akan memilih dengan siapa dia akan bekerja; juru kamera (DOP adalah istilah yang saat ini sering dipakai untuk seorang juru kamera; Director of Photography), seseorang yang bertanggungjawab atas kualitas gambar sebuah film yang mencakup tata cahaya, gerak dan komposisi) dan seorang penata artistik, seseorang yang bertanggungjawab atas keseluruhan set dan kebutuhan artistik lainnya yang dibutuhkan oleh cerita/skenario.
3. Pembahasan skenario. Di sini, sutradara mulai mengarahkan DOP, penata artistik dan unsur produksi yang lain untuk meng-interpretasi skenario. Isi skenario dibicarakan secara detail dan dibuat suatu kerangka perencanaan shooting. Apa yang sudah dipikirkan sutradara dibagikan pada orang lain yang nantinya akan membantu dia meng-eksekusi adegan-adegan hasil interpretasi kreatifnya terhadap skenario. Hasil pembahasan ini akan menjadi konsep dasar yang menjadi acuan kerja bagi seluruh unsur produksi pada saat shooting.
4. Bersamaan dengan itu diadakan juga pemilihan pemain. BIasanya untuk mendapatkan pemain yang tepat, diadakan audisi sebelumnya oleh seorang 'casting director'. Di sini pemain-pemain akan dipilih sesuai dengan tokoh-tokoh yang ada dalam skenario yang sesuai dengan karakteristik masing-masing. Biasanya, untuk pemain utama, selain secara fisik harus sesuai dengan kebutuhan cerita atau skenario, dibutuhkan pula faktor lain yang dikenal sebagai 'nilai jual'. Nilai jual seorang pemain akan tergantung dari seberapa terkenalnya dia atau dari banyaknya film yang sudah diikutinya dan seberapa lakunya film-film tersebut.
5. Setelah mendapatkan pemain-pemain yang dibutuhkan, diadakan proses reading, dimana para pemain akan mengusahakan suatu pendekatan terhadap tokoh yang akan dia perankan melalui proses reading, membaca sambil menginterpretasi setiap adegan dalam skenario. Hal ini dilakukan agar pada saat shooting mereka sudah terbiasa dengan karakter dari tokoh yang diperankannya. Untuk pemain yang lebih serius lagi, selain pendekatan dengan cara reading bersama pemain-pemain lainnya, maka dia akan melakukan onservasi secara pribadi dengan melakukan identifikasi terhadap tokohnya sehingga dia bisa mengenal lebih dalam pribadi yang akan dia perankan itu dan bisa lebih kreatif dalam mengembangkan aktingnya. Mengidentifikasi tokoh ialah sebuah upaya memindahkan tokoh tertentu kedalam diri seseorang dalam kenyataan yang dianggap memiliki kesamaan. Dengan begitu si pemain akan lebih mudah untuk mengembangkan kreatifitasnya.
6. Music director dan editor. Keduanya memang baru melaksanakan pekerjaan di tahap paska produksi. Tapi biasanya mereka sudah ada sejak awal sehingga mereka bisa mengikuti setiap perkembangan gagasan dan proses kreatif produksi itu. Pekerjaan seorang music director atau ilustrator musik dan editor akan sangat menentukan warna sebuah film. Pengisian musik dalam adegan-adegan tertentu dalam film akan mempengaruhi ritme dan emosi. Pengadaan sebuah lagu tema juga penting artinya bagi sebuah film. Lagu tema dan nada-nada dominan dari sebuah lagu tema akan menjadi faktor pengikat dalam adegan-adegan yang berbeda, misalnya dalam adegan-adegan penting tertentu, akan muncul nada-nada dari lagu tema yang akan menjadi 'cap' bagi film tersebut, seperti lagu "Unchained Melody" dalam film "Ghost". Demikian pula halnya dengan keberadaan seorang editor. Seorang editor kreatif akan memberi warna tersendiri bagi sebuah film. Intuisinya dalam memotong sebuah shot (dimana dia harus memulai dan mengakhiri sebuah shot) dan menyambungnya dengan shot-shot yang lain akan menentukan ritme/irama sebuah adegan. Apalagi dengan tekhnik editing modern, seorang editor akan dimampukan untuk melakukan hal-hal kreatif untuk menghidupkan setiap adegan yang disusunnya. Kalau dimasa lalu, seorang editor punya keterbatasan tertentu dan harus membagi pekerjaannya dengan pihak lab, sekarang dia bisa mengerjakan dan langsung melihat hasilnya di meja editing. Misalnya kalau dulu untuk sebuah dissolve saja, seorang editor harus membagi pekerjaannya untuk diselesaikan oleh lab, sekarang dengan digital editing, dia bisa melakukannya sendiri. Dengan bantuan tekhnologi digital, kreatifitas seorang editor jadi lebih luas. Oleh sebab itu, pengetahuan tekhnis bagi seorang editor adalah mutlak diperlukan.
7. Tahapan ini dianggap selesai apabila semua kebutuhan shooting sudah siap; set, properti kelengkapan kostum dan make up sudah terpenuhi. Dan tahap produksi sudah bisa dimulai.
Tahap Produksi
1. Dalam tahap ini, setiap adegan dalam skenario, berdasarkan semua perencanaan yang sudah disusun sebelumnya di-eksekusi, diterjemahkan ke dalam bentuk film.
2. Jumlah kru akan semakin banyak dalam tahapan ini sesuai dengan kapasitas yang dibutuhkan; untuk masalah pencahayaan, kru yang menangani masalah suara, dan kru yang membantu penata artistik seperti orang yang mengurus masalah kostum dan make up, atau juga kru yang menangani adegan-adegan aksi, efek khusus, pengadaan set dan properti, dlsb.
3. Pelaksanaan shooting harus dijadwalkan dengan baik. Penyusunan sebuah jadwal shooting dimaksudkan untuk menjamin kelancaran produksi. Jadwal ini disusun berdasarkan konfirmasi dengan berbagai pihak; pemain, set, perizinan, dll. Konfirmasi dengan pemain harus dilakukan karena biasanya seorang pemain mempunyai jadwal kerja yang lain. Menurut pengalaman, jadwal shooting akan sulit sekali untuk diterapkan secara disiplin, karena berbagai alasan. Oleh sebab itu, penyusunan jadwal biasanya bersifat fleksibel. Maka tidak heran bahwa sebuah jadwal shooting akan selalu mengalami perubahan dari menit ke menit.
Tahap Paska Produksi
1. Materi editing; shot-shot dari setiap adegan yang sudah diambil kemudian dikirim ke meja editing untuk proses selanjutnya oleh seorang editor. Di sini setiap penggalan shot akan di gabung dan di susun sesuai dengan urutan kejadian yang pada akhirnya akan membentuk sebuah kisah utuh yang bisa dinikmati dari awal hingga akhir. Tentunya pekerjaan menggabung-gabung shot bukan cuma sekedar menyambung setiap shot. Ada proses kreatif dalam menggabungkan shot-shot itu. Proses kreatif itu yang akan menghasilkan nilai-nilai dramatik sebuah film. Kadang-kadang bisa terjadi bahwa editing menutup kesalahan-kesalahan yang dilakukan pada saat shooting, atau kelemahan-kelemahan akting seorang pemain dapat teratasi dengan tekhnik editing yang tepat. Seorang editor yang baik akan bisa melakukan koreksi-koreksi terhadap kesalahan-kesalahan yang terjadi pada saat shooting, bahkan apabila dianggap perlu, seorang editor boleh mengusulkan pembuatan shot-shot khusus yang dibutuhkannya untuk melengkapi susunan adegan yang dibuatnya.
2. Musik dan mixing. Setelah film tersusun rapih, tiba saatnya untuk menyempurnakannya dengan mengisinya dengan suara-suara efek, menyempurnakan efek dramatiknya dengan memberinya musik.
3. Setelah melewati seluruh proses ini, maka sebuah film bisa dikirim ke lab untuk proses penyelesaian kemudian diperbanyak sesuai yang dibutuhkan.
Rangkuman
1. Mempersiapkan skenario dan mempersiapkan kelengkapan produksi lainnya (para pekerja dan elemen pendukung lainnya, seperti peralatan kamera dan aemua unsur pendukungnya, kelengkapan set, lokasi, dll. Mempersiapka pemain-pemain.
2. Melaksanakan shooting yang hasilnya menjadi materi editing.
3. Menyusun dan menyempurnakan sebuah film yang siap menjadi sebuah tontonan.
Tiga tahapan kerja di atas adalah proses kerja yang biasa dilakukan dalam menyelesaikan sebuah film, baik untuk bioskop mau pun untuk ditayangkan di stasiun televisi. Dalam kenyataannya tidak semua langkah-langkah produksi ini dilaksanakan. Ada beberapa langkah yang dilompati karena alasan-alasan tertentu. Tak apa, karena memang tak ada hukum yang mengharuskannya. Yang penting bahwa setiap unsur yang terlibat dalam produksi itu adalah mereka yang melakukan pekerjaan mereka secara bertanggungjawab, artinya mereka dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjanya secara profesional.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar